PABRIK MANUSIA
Kamis, 8 Juli 2021


"Masjid adalah Pabrik manusia. Misi utama masjid adalah mendidik manusia agar dapat menjadi manusia yang berkualitas. Dengan demikian para pengurus masjid jangan terlalu sibuk ngurus bangunan, namun bersibuklah untuk mendidik manusia agar para manusia dapat membangun peradaban!" (KH.Luqmanulhakim, Munzalan TV, 26.3.2021)

Setuju sekali. Saat ini sebagaian besar para pengurus masjid lebih disibukkan dengan pembangunan fisik. Bangunan yang masih bagus dirobohkan, lalu membangun dengan bang desain yang baru lagi.

Di lain waktu, pagar yang dirobohkan. Bangun baru lagi.

Lain waktu lagi, menara dirobohkan. Kubah dirobohkan. Bangun menara yang baru lagi, bangun kubah yang baru lagi. Begitu seterusnya.

Cara berpikirnya klop dengan para pejabat di Pemerintah daerah. Para pengurus masjid didorong untuk membangun fisik bangunan. Para pengurus masjid diberi uang dari anggaran pemerintah untuk merobohkan dan membangun ulang masjid-masjidnya. Akhirnya para pengurus masjid sibuk dengan aktivitas pembangunan fisik.

Sementara manusia di sekitar masjid tak sempat diurus. Orang-orang miskin tak bisa beli beras. Anaknya tak bisa melanjutkan sekolah. Anak-anak muda ga sempat diurus. Anak-anak kecil di biarkan menjadi generasi pencadu game online.

Seribu empat tahun yang lalu, rasulullah mendirikan Masjid Nabawi di Madinah. Tak besar, hanya berukuran 30 x 35 saja. Selain kecil, masjid itu juga tak beratap. Dindingnya tak diplester. Lantainya tak pake marmer.

Tapi coba lihat apa yang dihasilkan lewat masjid mungil itu dalam waktu tak lebih dari 10 tahun. Jumlah orang terdidik naik. Dari 67 orang menjadi 114 ribu orang. Madinah jadi kawasan yang kaya raya walau wilayahnya saat itu hanya seluas sebuah kecamatan saja. Kota kecil itupun berhasil mencetak pengusaha-pengusaha yang kekayaannya setara dengan Sandiaga Uno atau Nadiem Makarim.

Selain itu kota yang awalnya hanya sebuah perkampung itu berhasil pula mencetak ahli tata negara berkualitas dunia seperti Abu Bakar, Abu Hurairah, Umar bin Khatab, Utsman, Ali bin Abi Thalib. Juga mencetak ahli-ahli strategi perang yang setara dengan panglima di negara adi daya seperti Khalid bin Walid, dsb.

Para pemuda dan pemudinya juga teramat cerdas. Aisyiah, misalnya dalam usia belasa tahun atau setara dengan anak-anak SMA, sudah mampu menjadi ahli hukum. Osama bin Zaid dalam usia 20-an atau setara dengan mahasiswa semester 5 dapat memimpin 20 ribu pasukan dan membuat tentara negara adidaya Romawi kocar-kacir.

Sementara, dengan pencapaian yang teramat spektakuler itu, bangunan Masjid Nabawi tetap sama. Rasulullah tak lantas sibuk untuk membangun atap masjidnya agar ditutupi dengan kubah berlapis emas. Rasulullah juga tak sibuk melapisi dindingnya masjidnya dengan keramik. Baginda juga tak lantas mengganti lantai masjidnya dengan marmer yang mengkilat. Padahal kalau mau, beliau bisa melakukannya dengan sangat mudah, tinggal perintah, maka Baitulmaal pasti akan mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk membangun Masjid Nabawi. Tinggal perintah saja, maka patilah Abdurrahman bin Auf, santri Sang Baginda yang punya uang cash setara dengan 6 trilyun itu, pasti akan menyumbangkan sebagaian hartanya. Namun, hal itu tak dilakukan oleh Baginda. Baginda Rasulullah lebih sibuk mengurusi manusia dengan masjidnya. Fikiran dan hati beliau dipenuhi oleh kerisauan tentang nasib para manusia.

Bahkan hingga diujung nafas yang tersisa menjelang kewafatannya, beliau masih risau memikirkan nasib para manusia....

"ummati...ummati....ummati...", atau kalau dalam bahasa kita, "rakyatku...rakyatku...", demikian hatur Baginda Rasulullah terbata-bata menjelang malaikat maut menjemput sang Baginda untuk dibawa ke kehariban Allah Azza Wajalla. Ya Allaaahhhhh....

**

Sahabat sekalian, yok kita ikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah dengan masjid beliau. Menjadikan masjid sebagai "pabrik manusia". Manusia-manusia muttaqien, manusia-manusia yang berkualitas, manusia-manusia yang mampu menerangi jiwa-jiwa manusia yang sedang diperangkap oleh para penyembah berhala.

***

Beni Sulastiyo
Temanbelajar Masjidbillionaire Masjid Enterprise