MASJID DAN REKAYASA SOSIAL
Kamis, 8 Juli 2021


Bagi para aktivis pro perubahan, tentu sangat akrab dengan istilah "rekayasa sosial". Rekayasa sosial adalah sebuah upaya untuk mendorong perubahan sosial dengan aktivitas yang terencana dan sistematis.

Teori rekayasa sosial lahir dari pemikiran Hegelian dan Marxisme tentang dialektika dan dialektika materialisme. Pemikiran ini meyakini bahwa kondisi sosial masyarakat tidaklah lahir begitu saja, namun hasil dari proses dialektis anggota masyarakat di dalamnya. Dengan pemikiran ini, maka sebuah tatanan masyarakat dapat direkayasa agar apat berubah hingga memiliki karakter tertentu sesuai dengan yang diinginkan.

Karl marx dan para penganut ajarannya merekomendasikan organisasi sosial untuk melaksanakan rencana rekayasa sosial, seperti oranisasi buruh dan petani. Instrumen tertinggi yang direkomendasikan untuk melakukan rekayasa sosial dalam skup yang lebih luas adalah partai politik.

Para penganut ajaran marx sama sekali tidak menganjurkan insturment lain untuk melakukan aksi rekayasa sosial. Apalagi masjid.

Padahal jika mau bersikap supportif, diberbagai belahan dunia, masjid punya prestasi yang teramat banyak dalam mengusung perubahan.

Dalam salah satu materi Pelatnas Masjid Billionaire Angkatan 3 yang diselenggarakan oleh Masjid Enterprise, masjid direkomendasikan oleh Kiai Rendy Saputra sebagai instumen rekayasa sosial yang efektif. Beliau bahkan menegaskan bahwa masjid dapat menjadi instrumen rekayasa sosial yang paling aman.

Dalam sejarah perubahan sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia, perubahan sosial yang diusung oleh masjid memang sangat jarang menghasilkan konflik dan pertikaian. Berbeda halnya dengan aksi rekayasa sosial yang diusung oleh organisasi-organisasi kiri (soisalis/ komunis). Aksi perubahan sosial yang diusung oleh organisasi-organisasi kiri ini seringkali berujung pada konflik berdarah-darah. Konflik sosial yang terjadi di tahun 1965 di Indonesia adalah salah satu contoh dari sekian banyak konflik sosial berdarah yang diusung oleh pemikiran marxisme.

Proses perubahan yang diusung lewat masjid memiliki keunikan sendiri. Proses rekayasa sosial dilakukan lewat edukasi bukan dengan cara merebut atau menguasai instrumen sosial-ekonomi milik orang lain. Proses perubahan juga tidak dilakukan dengan melakukan pertentangan kelas.

**

Tawaran dari Kiai Rendy Saputra untuk menjadikan masjid sebagai instrumen rekayasa sosial, sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Ranah ini tentu adalah ranahnya para pemikir sosial. Semoga di lain waktu kita dapat mendownload pemikiran-pemikiran yang progressif dari Pengasuh Masjid Berkah Box Karang Joang, Balikpapan ini.

***

Beni Sulastiyo
Temanbelajar Masjidbillionaire